Artikel bab 6

April 13th, 2011

MENGELOLAH ETIKA DAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL

Koneksi konsep pada tahun 2001, rumah mode BCBG Max Azria Group di kalifornia berada diujung kebangkrutan.

Tujuan Strategis BCBG jelas : pertumbuhan. Kenyataannya, pertumbuhan BCBG sangat lambat. Tanpa gentar, CEO Max Azria mempekejakan Ben Malka sebagai presiden BCBG. Bersama-sama mereka menyusun rencana strategis baru, yakni memperoleh dana sebesar 53 juta dolar dan mulai beroperasi. BCBG memperkenalkan lini produk baru, mengadakan kesepakatan lisensi, dan menambah jumlah gerai ritel diseluruh dunia dengan cepat lewat akuisisi dan membuka toko-toko baru. Pada tahun2006 untuk pertamakalinya BCBG mencapai penjalan sebesar 1 Miliar dolar.

Dari ilustrasi kejadian diatas menunjukan pentingnya perencanaan dalam perusahaan. Diupayakan manajer dan staffnya memiliki beberapa perencanaan sebagai alternatif atau berjaga-jaga apabila rencana strategis tidak berjalan maximal. Selain itu juga peerenanaan tersebut harus direalisasikan dengan menjalankan proses perencanaan perusahaan yang meliputi :

1. Membuat rencana : menentukan tujuan perusahaan.

2. Menerjemahkan rencana : dengan membentuk tim intelejensi untuk membuat rencana dan sasran taktis.

3. Merencanakan operasi : dengan membuat rencana krisis untuk memilih ukuran dan target dan tujuan abadi.

4. Melaksanakan rencana : menggunakan elemen-elemen seperti, menejemen bersasaran penel instrumen kinerja, rencana sekali pakai, dan tanggungjawab intrpendensi.

5. Memonitor dan mempelajari : dengan cara mengevaluasi perencanaan dan operasi.

Max Azriah telah mengimplementasikan proses-proses tersebuut dalam menghadapi kondsi rumah mode yang hampir bangkrut itu telah sampai pada rencana ke dua, dengan memulai menggunakan rencana krisis untuk menyelamatkan usahanya, dia menetapkan dan menjalankan tujuan operasinya dengan baik dan bisa menjaikan pasar sasaran sebagai peluang untuk memperluas usahanya hingga keseluruh dunia.

 

SOAL BAB 8

April 7th, 2011

1. Sebutkan empat posisi dalam skala pada saat pengambilan keputusan ?

  • Kejelasan
  • Resiko
  • Ketidak jelasan
  • Ambiguitas

2. Sebutkan faktor-faktor yang akan mempengaruhi sebuah keputusan ?

  • Masalah Harga
  • Biaya Produksi
  • Volume
  • dan Suku bunga di masa yang akan datang

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ambiguitas ?

  • Tujuan - tujuan yang akan dicapai atau permasalah - permasalahan yang hendak dipecahkan tidaklah jelas, alternatif-alternatif sangatlah sulit ditentukan, dan informasi mengenai hasilnya nanti tidaklah tersedia.

4. Pendekatan - pendekatan apa sajakah yang digunakan seorang manajer untuk mengambil sebuah keputusan ?

  • Metode klasik
  • Model administratif
  • Atau model politis

5. Apa yang dimaksud dengan Rasionalitas yang terbatas ?

  • Manusia memiliki keterbatasan atau batas - batas dalam kemampuannya untuk berpikir rasional.

6. Apa yang dimaksud dengan Intuisi ?

  • Pemahaman yang cepat terhadap situasi genting berdasarkan pengalaman di masa lalu tetapi tanpa pemikiran yang sadar.

7. Sebutkan 4 asumsi dasar dalam Model politik ?

  • organisasi terdiri dari kelompok - kelompok dengan kepentingan - kepentingan, tujuan dan nilai-nilai yang beragam.
  • informasi sering kali ambigu dan tidak lengkap.
  • para manajer tidak memiliki waktu, sumer daya, atau kapasitas mental untuk mengenali semua dimensi masalah dan memproses semua informasi yang relevan.
  • manajer terlibat dalam perdebatan untuk memutuskan tujuan-tujuan dan mendiskusikan alternatif-alternatifnya.

8. Apa yang dimaksud dengan Diagnosis ?

  • Langkah dalam proses pengambilan keputusan dimana manajer menganalisis faktor - faktor sebab akibat penting yang berhubungan dengan situasi penting.

9. Apa yang dimaksud dengan Risk propensity ?

  • kerelaan untuk menjalankan resiko dengan peluang mendapatkan hasil yang lebih besar

10. Sebutkan enam keberat sebelahan alami yang diperlihatkan manajer selama proses pengambilan keputusan ?

  • terpengaruh oleh kesan pertama
  • membenarkan keputusan - keputusan yang lalu
  • melihat apa yang ingin dilihat
  • mempertahankan status quo
  • terpengaruh oleh kerangka masalah
  • terlalu percaya diri
 

Penelitian Catatan: Bisnis Lingkungan dan Budaya Perusahaan di Venezuela

April 7th, 2011

Abstract Abstrak

Penelitian ini dilaporkan di sini mempelajari hubungan antara budaya perusahaan perusahaan multinasional Amerika dan lingkungan bisnis di Venezuela.

Ini perusahaan jasa keuangan multinasional menikmati dan mencoba untuk mempertahankan, dengan segala cara, prestise di seluruh dunia yang sangat baik. Untuk memastikan hal ini, corpora tion’imposes pengawasan ketat, mengikuti perintah yang berasal dari kantor pusat berlokasi di Amerika Serikat. Menawarkan pelatihan yang berkesinambungan bagi para manajer, baik di luar negeri dan lokal, melalui kursus yang diberikan oleh anggota staf internasional yang melakukan perjalanan dari kantor pusat atau negara lain di mana mereka peroleh bisa mempengaruhi pengalaman yang juga dapat berguna di Venezuela. Kontribusi khusus penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana, dalam konteks Amerika Latin kewirausahaan, corpor makan budaya berguna dalam menangkal praktek-praktek bisnis lokal yang bertindak sebagai hambatan pemenuhan nilai-nilai perusahaan. Pada saat yang sama, konteks kewirausahaan lokal membuatnya sangat difficut bagi para manajer untuk beradaptasi dengan corpor sebuah makan budaya untuk periode tak terbatas waktu. Sebagai manajer tumbuh tua dan masing-masing mengubah keadaan, mereka tidak lagi menyesuaikan diri dengan tujuan perusahaan karena perusahaan tidak dapat menawarkan mereka kemungkinan memenuhi kebutuhan dan tujuan profesional. Pada titik itu, lingkungan bisnis lokal yang menawarkan manajer kesempatan untuk memajukan profesional.

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&langpair=en|id&u=http://oss.sagepub.com/content/17/5/843.abstract&rurl=translate.google.co.id&usg=ALkJrhgpQ0lD0fYigZP7uSHALd0q2WkVjg

 

Perencanaan Manajerial dan Penetapan Tujuan

April 7th, 2011

Misi perusahaan

Misi (mission),yang berarti dasar keberadaan perusahaan,berada di puncak hierarki tujuan.Misi yang di tetapkan dengan jelas merupakan dasar dari penetapan tujuan dan rencana ke depan.

Pernyataan misi(mission statement) formal adalah gambaran umum tujuan yang membedakan suatu perusahaan dari perusahaan lain yang sejenis

TUJUAN DAN RENCANA

Tujuan strategis(strategic goal),yang disebut juga dengan tujuan resmi,adalah pernyataan umum mengenai masa depan yang ingin dicapai perusahaan.Tujuan ini berkaitan dengan perusahaan secara keseluruhan,bukan dengan divisi atau departemen tertentu.

TUJUAN OPERASIONAL(operational goals) adalah hasil yang diharapkan dari departemen,kelompok kerja,dan individu pegawai.Tujuan operasional bersifat pasti dan terukur.

Kriteria Tujuan Efektif

v Spesifik dan terukur

v Memiliki jangka waktu yang pasti

v Mencakup hasil-hasil penting

v Menantang tetapi realistis

v Dikaitkan dengan imbalan

RENCANA SEKALI PAKAI DAN RENCANA TETAP

Rencana sekali pakai (single-use plans) dibuat untuk mencapai sejumlah tujuan yang kemungkinan tidak berulang di masa depan.

Rencana tetap (tanding plans) adalah rencana berkelanjutan yang memberi panduan melakukan dan mengatasi tugas atau situasi yang terjadi secara berulang di perusahaan.

PERENCANAAN KRISIS

Pencegahan

  • Membangun hubungan
  • Mendeteksi sinyal dari lingkungan

Persiapan

· Membentuk tim manajemen krisis dan juru bicara perusahaan

· Membuat rencana manajemen krisis terperinci

· Membuat system komunikasi yang efektif

MEMBUAT PERENCANAAN UNTUK MENCAPAI KINERJA TINGGI

Tujuan perencanaan dan penetapan tujuan adalah untuk membantu perusahaan mencapai kinerja tinggi.Proses perencanaan kini berubah agar lebih selaras dengan lingkungan dan pergeseran perilaku pegawai.Dahulu strategi dan perencanaan berada di ranah manajer puncak.Sekarang,para manajer melibatkan seluruh anggota perusahaan,yang dapat menghasilkan kinerja tinggi karena anggota perusahaan memahami serta memercayai tujuan dan rencana perusahaan.

 

Mengelolah Etika dan Tanggung Jawab Sosial

April 7th, 2011

· Etika adalah kode prinsip moral yang membangun perilaku yang berhubungan dengan benar dan salah. Sebuah persoalan etika bisa muncul dalam situasi apapun ketika tindakan seorang individu atau organisasi dapat membahayakan atau menguntungkan pihak lain. Keputusan dan perilaku yang beretika biasanya di bimbing oleh suatu sistem nilai. Empat pendekatan yang berdasarkan pada nilai yang menjadi kriteria dalam pengambilan keputusan yang beretika adalah pendekatan bermamfaat, individualisme, hak-hak moral, dan keadilan.

· Bagi manajer yang individual, kemampuan untuk keputusan yang beretika sebagian bergantung pada apakah sang manajer berada ditingkatan perkembangan moral yang prakonvensional, konvensional, dan poskonvensional.

· Tanggungjawab sosial perusahan berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut perusahan pada masyarakat. Model untuk mengevaluasi kinerja sosial melibatkan empat kriteria: ekonomi, hukum, etika, dan kebijaksanaan.

·     Persoalan tentang bagaimana sebuah organisasi dapat menjadi warga perusahan yang baik adalah persoalan yang membingungkan karena organisasi harus menjawab tuntutan banyak pemangku kepentingan, yang terdiri atas pelanggan, pegawai, pemegang saham, dan pemasok. Beberapa organisasi memperluas cakupan pihak-pihak yang berwenang dengan melakukan aktifitas bisnis dasar piramida.

· Satu permasalahan sosial yang makin diprihatinkan adalah tanggungjawab terhadap lingkungan alam. Filosofi ketahanan menekankan terhadap perkembangan ekonomi yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang sekaligus menjaga sumber daya alam bagi masa depan.

Manajer dapat membantu organisasinya untuk beretika dan bertanggung jawab secara sosial dengan menjalankan kepemimpinan yang beretika dan menggunakan mekanisme seperti kode etik, komite etika, kepala pegawai etika, program pelatihan, dan prosedur-prosedur untuk melindungi whistle-blower. Setelah bertahun-tahun munculnya skandal-skandal, banyak manajer yang mengakui bahwa mengatur etika dan bertanggung jawab sosial sama pentinh dengan memperhatikan biaya pengeluaran, keuntungan, dan pertumbuhan. Perusahan yang beretika dan bertanggung jawab secara sosial dapat menunjukan kinerja yang sama baiknya, bahkan sering kali lebih baik dari perusahan-perusahan yang tidak bertanggung jawab secara sosial.

 

Artikel ETIKA dan TANGGUNG JAWAB SOSIAL

April 7th, 2011

APAKAH ETIKA MANAJEMEN ITU?

Etika adalah hal yang sulit di jelaskan dengan cara yang pasti. Dalam konteks umum, etika (ethics) adalah kode prinsip dan nilai moral yang membangun perilaku seseorang atau sebuah kelompok yang berhubungan dengan benar dan salah.

Dilema etis ( ethical dilemma) muncul dalam situasi yang menyangkut benar atau salah ketika nilai-nilai menjadi pertentangan.Individu yang harus membuat pilihan etis dalam sebuah organisasi disebut agen moral. Berikut ini adalah dilema yang mungkin akan di hadapi manajer dalam sebuah perusahaan.

1. Perusahaan anda memerlukan screening dafar pengawasan teroris untuk semua pegawai baru, yang kurang lebih akan memakan waktu 24 jam sejak perintah itu diberikan.

2. Sebagai seorang manajer penjualan yang bekerja di perusahaan farmasi yang besar, anda di minta untuk mempromosikan obat baru dengan harga 2500 dolar per dosis.

3. Perusahaan Anda berharap untuk membangun kantor cabang manufaktur yang baru di luar negeri.

4. Anda telah bekerja sama dengan manajer, yang juga merupakan teman anda, dalam sebuah proyek penting.

KRITERIA PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS

Manajer-manajer yang berhadapan dengan jenis-jenis pilihan etis yang sulit ini sering kali mendapat keuntungan dari strategis nurmatif. Etika normative menggunakan beberapa pendekatan untuk menggambarkan nilai-nilai dalam membimbing pengambilan keputusan yang etis.


Pendekatan Bermanfaat

Pendekatan bermanfaat (utilitarian approach) yang di dukung oleh filsuf abad kesembilan belas, Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, menyatakan bahwa perilaku moral menghasilkan kebaikan yang paling besar bagi jumlah yang lebih besar.

Misalnya, pendekatan bermanfaat akan meyakinkan bahwa merupakan tindakan yang benar secara moral untuk mendorong satu orang dan membahayakannya demi menyelamatkan lima nyawa.

Pendekatan Individualisme

Pendekatan individualisme (individualism approach) mengatakan bahwa suatu tindakan dianggap pantas ketika tindakan tersebut mengusung kepentingan terbaik jangka panjang seorang individu.

Individualisme diyakini dapat membawa kejujuran dan integritas karena individualisme berjalan sangat baik dalam jangka yang panjang. Pembohongan dan penipuan yang dilakukan untuk kepentingan diri dengan segera hanya akan menyebabkan rekan bisnis berbalik membohongi dan menipu kita. Oleh karenanya,individualisme pada akhirnya mengarah pada perilaku terhadap orang lain yang standar perilaku yang orang-orang inginkan terhadap mereka.

Pendekatan Hak-hak Moral

Pendekatan hak-hak moral (moral-righ approach) menyatakan bawa umat manusia memiliki hak asasi dan kebebasan yang tidak bias direbut oleh keputusan satu individu.


Enam hak-hak moral harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan :

1. Hak persetujuan bebas

2. Hak atas privasi

3. Hak kebebasan hati nurani

4. Hak atas proses hak

5. Hak atas hidup dan keamanan

6. Hak untuk bebas berpendapat


Pendekatan Keadilan

Pendekatan keadilan (justice approach) menyatakan bahwa keputusan moral harus didasarkan pada standar-standar keadilan,kejujuran,dan ketidakberatsebelahan. Tiga jenis keadilan haruslah di perhatikan oleh para manajer.

Keadilan distributife (distributive justice) mengharuskan bahwa perlakuan yang berbeda terhadap orang-orang tidaklah didasarkan pada karakteristik kesewenang-wenangan.

Keadilan procedural (procedural justice) mengharuskan bahwa peraturan didirikan dengan adil. Peraturan harus dengan jelas diberikan dan dijalankan secara konsisten dan tidak berat sebelah.

Keadilan kompensasi ( compensatory justice) mengatakan bahwa individu harus diberikan kompensasi atas cedera yang dideritanya yang disebabkan oleh pihak yanh bertanggung jawab.


PILIHAN-PILIHAN ETIS SEORANG MANAJER

Salah satu cirri pribadi yang penting adalah tahap pngembangan moral.

Pada tingkatan prekonvensional, setiap individu mementingkan penghargaan dan hukuman pada pihak luar dan mematuhi pihak berwenang untuk menghindari konsekuensi yang akan mengganggu dirinya.

Ditingkat dua yang disebut tingkatan konvensional, orang-orang belajar untuk mengonfirmasi pengharapan akan perilaku yang baik sebagaimana yang ditentukan oleh rekan kerja, keluarga, teman, dan masyarakat. Memenuhi kewajiban sosial dan interpersonal adalah hal yang penting. Kerja sama kelompok kerja adalah sikap yang dipilih untuk mencapai tujuan orgaisasi, dan manajer menggunakan gaya kepemimpinan yang mendorong hubungan interpersonal dan kerja sama.

Pada tingkatan poskonvensional, individu diarahkan oleh serangkaian ilai-nilai internal yang berdasarkan pada prinsip-prinsip keadilan dan hak internasional dan bahkan tidak akan mematuhi peraturan atau hukum yang melanggar prinsip-prinsip ini.


Apakah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Itu?

Tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility-CSR) adalah kewajiban manajemen untuk membuat pilihan dan melakukuan tindakan yang akan berperan terhadap kesejahteraan dan kepentingan masyarakat serta organisasi.

Pemangku Kepentingan dalam Organisasi

Dari sudut pandang tanggung jawab sosial, organisasi-organisasi yang tercerahkan memandang lingkungan internak dan eksternal sebagai beragamnya pemangku kepentingan.

Pemangku kepentingan (stakeholders) adalah kelompok apapun yang berada di dalam maupun di luar organisasi yang memiliki andil dalam kinerja organisasi.

Kinerja organisasi memengaruhi pemangku kepentingan, tetapi pemangku kepentingan dapat juga sangat memengaruhi kinerja dan kesuksesan organisasi.

Dasar Piramida

Konsep dasar piramida (bottom of the pyramid concept-BOP) yang terkadang disebut juga kaki piramida, menyatakan bahwa perusahaan dapat mengurangi kemiskinan dan penyakit sosial lainnya, sekaligus tetap memperoleh keuntungan, dengan menjual barang pada orang-orang termiskin di dunia.


Di bawah ini adalah contoh dari perusahaan yang telah mempraktikan aktivitas dasar piramida selama lebih dari seratus tahun:

Penjualan Lifebuoy telah naik dengan tajam semenjak dilaksanakannya kampanye tersebut, dengan di bantu oleh pengenalan batang sabun yang lebih kecil seharga 5 rupe (sekitar 12 sen). Sama pentingnya, ucap kepala Hindustan Lever Harist Manwani, kampanye ini telah mencapai sekitar 80 juta oang miskin pedesaan dengan edukasi tentang bagaimana mencegah kematian yang tiada gunanya.


ETIKA KETAHANAN

Ketahanan (sustainability) mengacu pada perkembangan ekonomi yang menghasilkan kekayaan dan memenuhi kebutuhan generasi saat ini sekaligus menjaga lingkungan agar generasi masa depan dapat memenuhi kebutuhan mereka juga.

MENGEVALUASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Model ini mencirikan bahwa tanggung jawab sosial keseluruhan dari perusahaan dapat di bagi ke dalam empat criteria utama: tanggung jawab ekonomi, hukum, etika, dan kebijaksanaan. Keempat kriteria ini saling sesuai untuk membentuk keseluruhan kemampuan perusahaan dalam bereaksi terhadap sosial.

Kriteria pertama dari tanggung jawab sosial adalah tanggung jawab ekonomi.

Tanggung jawab ekonomi,yang paling ekstrimnya, disebut pandangan pemaksimalan keuntungan, yang diusung oleh peraih Nobel di bidang ekonomi, Milton Friedman.

Tanggung jawab hukum, menenukan apa yang dianggap masyarakat sebagai sesuatu yang penting berhubungan dengan perilaku yang pantas dilakukan oleh perusahaan.Organisasi yang melanggar hukum dengan sengaja merupakan perusahaan yang buruk dalam kategori ini.

Tanggung jawab etika terdiri atas perilaku-perilaku yang tidak bisa ditempatkan kedalam ranah hukum dan mungkin tidak berhubungan dengan kepentingan ekonomi perusahaan secara langsung. Perilaku yang tidak etis muncul ketika keputusan memungkinkan seorang individu atau sebuah perusahaan untuk mendapat keuntungan dengan mengorbankan orang lain atau seluruh masyarakat.

Tanggung jawab diskresionari (discretionary responsibility) benar-benar bersifat suka rela dan di bimbing oleh hasrat perusahaan untuk memberikan kontribusi sosial yang tidak dimandatkan oleh ekonomi, hukum, atau etika. Tanggung jawab diskresinari adalah kriteria terbesar dari tanggung jawab sosial karena aktivitasnya lebih besar dari pengharapan masyarakat dalam kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.

MENGATUR ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Kepemimpinan yang beretika berarti bahwa manajer berlaku jujur dan dapat di percaya,adil dalam bekerja bersama pegawai dan pelanggan, dan beretika dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesionalnya.

Manajer uga dapat menerapkan mekanisme organisasi dalam membantu pegawai dan perusahaan untuk tetap berada di jalur yang beretika. Beberapa mekanisme utama adalah kode etik, struktur etis, dan ukuran-ukuran yang dapat melindungi orang-orang yang memberikan informasi tentang adanya perilaku yang tidak patut (whistle-blower).

KODE ETIK

Kode etik (code of ethics) adalah pernyataan resmi dari nilai-nilai yang di anut oleh perusahaan yang berkaitan

Dengan persoalan etika dan sosial; kode etik menyampaikan pada para pegawai akan apa yang di bela oleh perusahaan mereka. Kode etik cenderung ada dalam dua jenis:

Pernyataan yang berdasarkan prinsip

Pernyataan yang berdasarkan kebijakan

STRUKTUR ETIS

Stuktur etis mewakili beragam system,posisi, dan program yang dapat dilaksanakan oleh perusahaan untuk menerapkan perilaku beretika.

Komite etika (ethics commite) adalah kelompok eksekutif yang di tunjuk untuk mengawasi etika perusahaan. Program pelatihan etika, juga membantu pegawai untuk mengatasi persoalan etika dan menerjemahkan nilai-nilai yang dinyatakan dalam kode etik ke dalam perilaku sehari-hari.

Whistle-Blowing

Penyingkapan yang dilakukan pegawai mengenai praktik-praktik illegal,amoral, atau tidak sah yang dilakukan oleh organisasi disebut whistle-blowing.

Whistle blower sering kali melaporkan tindakan kejahatan pada pihak luar,seperi agen perundangan,senator,atau wartawan surat kabar.

Kasus Bisnis tentang Etika dan Tanggug Jawab Sosial

Secara alami, hubungan antara etika dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan kinerja keuangannya berkaitan dengan manajer dan gelar sarjana manajemennya. Sejumlah penelitian, yang dilakukan untuk menentukan apakah etika dan tanggung jawab sosial yang dijunjung tinggi meningkatkan atau menurunkan kinerja keuangan, telah memberikan hasil-hasil yang beragam tetapi secara umum menemukan hubungan yang positif antara tanggung jawab sosial dengan kinerja keuangan.penggunaan sumber daya bagi etika dan tanggung jawab sosial tidak akan mencelakai perusahaan.

Para peneliti menemukan,misalnya, bahwa orang-orang lebih memilih untuk bekerja di perusahaan yang menunjukkan tingkat etika dan tanggung jawab sosial yang tinggi; karenanya, organisasi-organisasi yang beretika dan bertanggung jawab ini dapat menarik dan mempertahankan pegawai-pegawai yang berkualitas tinggi.

 

ArtikeL BAB 2 PERKEMBANGAN ILMU MANAJEMEN

April 6th, 2011

Stress atau stress psikologis telah menjadi topik yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini, baik oleh para karyawan, praktisi, konsultan, maupun ilmuwan. Berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, psikologi sosial, manajemen, dan ilmu perilaku organisasi masing-masing telah memberikan sumbangannya yang berarti bagi studi tentang stress ini.


Meskipun sejumlah peneliti menawarkan banyak definisi yang masing-masing mengandung unsur-unsur yang khas (misalnya : McMgrath, 1976; Schuler, 1980; Ivancevich & Matteson, 1980), pada dasarnya ada dua tipe konsepsi utama yang mereka pakai, yaitu fisiologis dan psikologis. Berdasarkan perspektif ini, Mikhail (1981) mengajukan suatu definisi stress sebagai : “a state which rises from an actual or perceived demand capacity imbalance in the organ’s vital adjustment actions and which is partially manifested by a non-specific response.” Artinya, suatu keadaan yang timbul dari kapasitas tuntutan yang tidak seimbang, baik nyata maupun dirasakan, dalam tindakan-tindakan penyesuaian organ dan yang sebagian diwujudkan oleh respon yang nonspesifik. Jadi, definisi ini hendak mengintegrasikan sekaligus unsur-unsur psikologis dan fisiologis dari stress.

Sementara itu, sumber-sumber utama stress diidentifikasi oleh Cooper & Marshal (1978) sebagai berikut :

(1) factors intrinsic to the job (faktor-faktor yang melekat pada pekerjaan).
(2) role in the organization (peranan dalam organisasi)
(3) relations within the organization (hubungan-hubungan dalam organisasi)
(4) career development (perkembangan karier)
(5) organizational structure and climate (struktur dan iklim organisasi)
(6) organizational interface with outside (hubungan organisasi dengan pihak luar)
(7) factors intrinsic to individual (faktor yang berasal dari dalam diri individu).

Setelah mengetahui sumber-sumber stres, semoga Anda dapat terhindar dari stress.

Bisa kita jadikan pelajaran dari diskripsi diatas bahwa membangung manajemen yang baik sangat penting perusahaan dan unsur-unsur didalamnya. Untuk itu munculah berbagai perkembangan ilmu manajemen dan perspektifnya. Dalam masalah ini manajer harus selalu dinamis dan komunikatif dalam menjalankan perusahaan dan perlakuan pada karyawan. Manajer harus mengetahui keadaan karyawan dari kondisi psikologis maupun sosial dengan begitu manajer bisa mengetahui apa saja yang dibutuhkan karyawan.

Manajer bisa mengimplementasikan beberapa perkembangan persektif ilmu manajemen dalam menjalankan perusahaan sesuai dengan kondisi perusahaan. Jadikan perusahaa anda terbaik dalam pencapaian visi dan misinya dan siapkan diri anda sebagai manajer yang siap menghadapi tantangan global !.

 

BAB 8 PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN

April 4th, 2011

Jenis-Jenis Keputusan dan Masalahnya

Sebuah Keputusan merupakan pilihan yang dibuat dari alternatif-alternatif yang ada. Banyak orang menyangka bahwa membuat pilihan adalah bagian yang besar dalam proses pengambilan keputusan, tetapi tidak. Membuat pilihan hanyalah salah astu bagiannya saja.

Pengambilan Keputusan adalah proses dalam mengenali masalah-masalah dan peluang-peluang untuk kemudian dipecahkan. Pengambilan keputusanmengharuskan adanya usaha baik sebelum ataupun sesudah dibuatnya pilihan yang nyata.

Keputusan yang Terprogram dan Tidak Terprogram

Keputusan yang Terprogram adalah sebuah keputusan yang diambil untuk menjawab situasi yang serig kal muncul sehingga ketentuan-ketentuan dalam mengambil keputusan dapat dibuat dan ditretapkan. Keputusan Yang terprogram laninya biasanya menyangkut suatu keahlian tertentu untuk mengisi jabatan tertentu, titiik pemesanan ulanguntuk memanufaktur pengecualian inventaris yang melaporkan pengeluaran senilaisepuluh persen atau lebih over budget, seleksi rute-rute pengangkutan untuk mengantarkan produk.

Keputusan yang Tidak Terprogram adalah keputusan yang diambil untuk menjawab situasi yang unik, sulit dikenali dan sangat tidak terstrukturserta membawa konsekuensipenting bagi organisasi. Sebagian besar kepusan tidak terprogram berkaitan dengan perencanaan strategis karena tingkat ketidakjelasannyayang tinggi dan keputusan-keputusan yang harus diambil pun rumit.

Menghadapi Kejelasan dan Ketidak jelasan

Satu perbedaan utama antara keputusan terprogram dann tidak terprogram ada dalm kaitannya dwenhgan tingkat kejelasan dan tidakkejelasanyang harus ditangani manajerdalam mengambil keputusan. Kejelasan adalah situasi dimana semua informasi yang dibituhkan oleh pihak penganmbil keputusan tersedia sepenuhnya.

Risiko adalh situasi diman keputusan memiliki tujuan yang jelas dan informasi yang baik pun tersedia, tetapi hasil dimasa yang akan datang yang berkaitan dengan tiap alternatif belumlah pasti. Namun, informasi yang cukup selalu tersedia bagi kemungkinan diperkirakannya hasilyang sukses unttuk setap alternatif.

Ketidakpastian adalah situasi yang muncul ketika manajer megetauhi tujuan apa yang hendak dicapainya, tetapi informasi tentang alternatifdan peristiwa dimasa yang aka datangtidaklah lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi sebuah keputusan, seperti masalah harga, biaya produksi, colume, dan, suku bunga di masa yang akan datang adalah persoalan yang sulit untuk dianalisis dan diperkirakan.Seorang manajer akan berhadapan dengan ketidakjelasan setap harinya. Oleh karena, seorang manajer haus mengendalkan kreativitas, penilaian, intuisi, dan pengalaman untuk menciptakan sebuah respons terhadap persolan tersebut.

Ambiguitas dan Konflik Ambiguitas adalah situasi paling sulit dalam pengambilan keputusan Ambiguitas adalah kondisi dimana tujuan yang akan dicapai dan peermasalahan yang hendak dipecahkan tidaklah jelas, alternatif sangatlah sulit ditentukan dan informasi tentang hasil tidak tersedia. Situasi ang benar-benar ambigu dapat menciptakan apa yang terkadang disebut dengaan masalah keputusan yang gagal. Keputusan yang gagal adalah keputusan yang mendatangkan konflik dan bukan mencapai tujuan serta alternatif keputusan, membuat keadaan yang tidak stabil, tidak memiliki informasi dan link yang jelas diantaraunsur-unsur pentig dalam mengambil keputusan.

MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Model yang Ideal dan Rasional

Model Klasik adalah model dalam pengambilan keputusan yang berdasarkan pada asumsi bahwa manjer harus membuat keputusan yang logis yang akan berada dalam kepentingan ekonomi perusahaan. Empat asumsi yang menggaris bawahi model ini adalah sebagai berikut:

§ Pengambilan keputusan bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan yang sudah diketauhi dan disepakati.

§ Pengambilan keputusan bekerja keras dalam kondisi ketidakpastian, dengan mengumpulkan informasi yang lengkap.

§ Kriteria untuk mengevaluasipilihan alternatif harus diketauhi

§ Pengambilan keputusan adalah orang yang rasional dan menggunakan logika untuk menetapkan nilai-nilai, membuat pilihan, mengevaluasi alternatif, dan mengambilkeputusan yang akanmemaksimalkan pencapaian tujuan organisasi.

Model klasik dalam mengambil keputusan dianggap sebagai model yang normatif, yang berarti bahwa model ini menentukan bagaimana seorang pengambil keputusan seharusnya mengambil keputusan.

Pendekatan lain yang digunakan dalam pengambilan keputusan, yang disebut sebagai model administratif, dianggap bersifat deskritif yang artinya model ini menggambarkan bagaimana manajer benar-benar melakukan pengambilan keputusan dalm situasi yang kompleks, dan bukannya mendikte bagaiman manajer seharusnya mengambil keputusan berdasarkan teori ideal. Model administratif mengandalkan asumsi yang berbeda dari asumsi-asumsi pada model klasik dan administratif ini berfokus pada faktor-faktor diorganisasi yang mempengaruhi keputusan yang dilakukan individu. Menurut Model administratif:

1. Tujuan-tujuan dari pengambilan keputusan sering kali tidak jelas, bertanggung jawab, dan kurang adanya konsemsus diantara para manajer.

2. Prosedur rasional tidak selalu digunakan, dan ketika prosedur rasional digunakan, prosedur ini dibatasi hingga menjadi sebuah cara sederhana dalam memandang masalah yang tidak menangkap kompleksitas dari hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam organisasi.

3. Pencarian untuk menemukan alternatif yang dilakukan oleh manajer bersifat terbatas karenamanusia, informasi, dan sumber daya pun bersifat terbatas.

4. Sebagaian besar manajer akhirnya melakukan pemuasan daripada mencari solusi yang paling baik.

Model politik ini sangatlah berguna dalam membuat keputusan yang tidak terprogram ketika situasinya tidak jelas, informasinya terbatas, dan adanya konflik antara manajer tentang tujuan yang akan dicapai atau tindakan apa yang akan dilakukan. Sebuah koalisi adalah sebuah analisis tidak resmi siantara manajer-manajer yang mendukung sebuah tujuan tertentu. Model politik dimulai dengan empat asumsi:

1. Organisasi terdiri dari kelompok-kelompok dengan kepentingan, tujuan, dan nilai-nilai yang beragam.

2. Informasi sering sekali ambigu dan tidak lengkap.

3. Para manajer tidak memiliki waktu, sumber daya, atau kapasitas mental untuk mengenali semua dimensi masalah dam memproses semua informasi yang relavan.

4. Manajer terlibat dalam perdebatan utuk memutuskan tujuan-tujuan dan mendiskusikan alternatif-alternatifnya.

LANGKAH-LANGKAH DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN

1. Pengenalan Syarat-syarat sebuah Keputusan

Manajer menghadapi syarat-syarat dalam mengambil keputusan dalam bentuk masalah maupun peluang. Sebuah masalah adalah sebuah situasi dimana pencapaian organisasi gagal memenuhi tujuan yang telah dibuat. Ada beberapa aspek dari kinerja bisnis yang tidak memuaskan. Sebuah peluang adalah sebuah situasi dimana manajer ulai melihat pencapaian organisasi potensial yang melebihi tujuan yang telah dibuat.

2. Diagnosis dan Analisis Sebab-Akibat

Jika manajer dapat mengenali masalah dan peluang yang ada, pemahaman akan situasi bisa disaring. Diagnosis adalah langkah dalam proses pengambilan keputusan dimana manajer menganalisis faktor-faktor sebab akibat penting yang berhubungan denan situasi penting.

3. Pengembangan Alternatif

Tahap berikutnya adalah membuat solusi alternatif yang akan menjawab kebutuhan yang ada dan memperbaiki sebab-akibat yang mendasarinya.

4. Pemilihan Alternatif yang Dikehendaki

Setelah beberapa alternatif berhasil dikembangkan, organisasi harus memilih satu alternatif. Pilihan keputusan adalah seleksi dari arah tindakan alternatif yang paling menjanjikan. Alternatif terbaik adalah yang solusinya paling sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai keseluruhan organisasi, serta mencapai hasil yang dikehendaki dengan menggunakan sumber daya paling sedikit. Memilih antara alternatif-alternatif juga bergantung pada faktor-faktor kepribadian dan kerelaan manajer untuk menerima risiko dan ketidak pastian. Risk propensity adalah kerelaan untuk menjalankan risiko dengan peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar.

5. Penerapan Alternatif terpilih

Tahap penerapan adalah tahap dimana kemampuan manajerial, administratif dan persuasif yang dimilki seorang manajer akan digunakan untuk menjamin bahwa alternatif terpilih akan dijalankan. Kesuksesan alternatif ini bergantung pada bisa atau tidaknya alternatif ini diterjemahkan menjadi suatu tindakan.

6. Evaluasi dan Umpan Balik

Pada tahap evaluasi, yang merupakan bagian proses pengambilan keputusan, para pengambil keputusan akan mendapat informasi tentang seberapa baiknua mereka menerapkan keputusan yang telah mereka ambil dan apakah peneran ini efektif dalam mencapai tujuan mereka.

KERANGKA KERJA KEPUTUSAN PRIBADI

Pengambilan keputusan adalah perbedaan diantara orang-orang yang berkaitan dengan bagaimana mereka memahami persoalan dan mengambil keputusan.

MENGAPA MANAJER MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG SALAH

Sebagian besar keputusan yang tidak tepat adalah kesalahan penilaian yang berasal dari kapasitas pikiran manusia yang terbatas dan dalam keberatsebelahan alami yang diperlihatkan manajer selama proses pengambilan keputusan. Dengan menyadari enam keberatsebelahan dibawah ini, manajer terbantu dalam membuat pilihan lebih seksama:

v Terpengaruh Oleh Kesan Pertama

v Membenarkan keputusa-keputusan yang lalu

v Melihat apa yang ingin dilihat

v Mempertahankan status quo

v Terpengaruh oleh kerangka masalah

v Terlalu percaya diri

Mulailah dengan Curah Gagasan

Curah gagasan adalahsebuah teknik yang mengharuskan menggunakan kelompok tatap muka dengan spontan menyarankan berbagai pilihan dalam pengambilan keputusan. Tujuan dari curah gagasan ini adalahuntuk mengumpulkan ide sebanyak mungkin. Curah gagasan pun memiliki beberapa kekurangan. Curah gagasan elektronik adalah mengumpulkan orang-orang dalam sebuah kelompok interaktif melalui jarinagan komputer untuk memberikan alternatif-alterbnatif; terkadand disebut dengan brainwriting.

Hindari Groupthink

Groupthink adlah kecenderungan anggota kelompok untuk tidak mengutarakan opini-opini yang bertentangan. Ketika para anggota kelompok jatuh ke dalam groupthink, hasrat untuk selalu harmonis mengalahkan pertimbangan untuk mendapatkan keputusan yang berkualitas.

Tahu Kapan Harus Gagal

Dalam lingkungan yang bergerak cepat, manajer yang baik akan berani mengambil risiko dan belajar dari kesalahan, tetapi manajer yang baik juga tidak ragu untuk menghentikanhal ayang tidak akan berhasil. Penelitian telah menemukann bahwa manajer dan organisasi sering kali terus memberikan waktu dan uang untuk sesuatu yang ssudah terbukti akan gagal. Kecenderunngan ini dianggap sebagai komitmen ekskalasi yang berarti terus menerus memberi waktu dan sumber daya keputusan yang gagal.

 

Konsep Pengambilan Keputusan dalam Manajemen Pendidikan

April 4th, 2011

Dalam sepanjang hidupnya manusia selalu   dihadapkan   pada   pilihan-pilihan   atau   alternatif   dan   pengambilan keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice, yang menyatakan  dalam  kehidupan  sehari-hari  manusia  melakukan  atau  membuat pilihan-pilihan  di  antara  sejumlah  alternatif.  Pilihan-pilihan  tersebut  biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah  yakni upaya untuk menutup  terjadinya kesenjangan  antara  keadaan  saat  ini  dan  keadaan  yang diinginkan.

Matlin(1998) menyatakan  bahwa  situasi pengambilan keputusan yang dihadapi seseorang akan mempengaruhi keberhasilan suatu   pengambilan   keputusan.  Setelah seseorang berada dalam situasi pengambilan keputusan maka selanjutnya dia akan melakukan tindakan untuk mempertimbangkan, menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan terhadap alternatif yang ada.

Dalam tahap ini reaksi individu yang satu dengan  yang  lain  berbeda-beda  sesuai  dengan  kondisi  masing-masing  individu.  Ada  individu yang dapat segera menentukan sikap terhadap pertimbangan yang telah  dilakukan,  namun  ada  juga individu  lain  yang  tampaknya  mengalami  kesulitan untuk  menentukan  sikapnya.

Dalam praktiknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Arroba (1998) menyebutkan 5 faktor faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, yaitu:  (1)  informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi; (2) tingkat pendidikan; (3) personality; (4) coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan  permasalahan (proses adaptasi); dan (5) culture.Hal senada dikemukakan  Siagian (1991) bahwa terdapat  aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.

Adapun aspek internal tersebut antara lain :

§ Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung  akan  berpengaruh  terhadap  pengambilan  keputusan.  Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan keputusan.

§ Aspek kepribadian. Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.

Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain :

§ Kultur. Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.

§ Orang lain. Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh  atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan  keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan  pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil  keputusan.

Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil keputusan, pada dasarnya dia telah melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya. Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yang tersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan kemampuan individu yang bersangkuran,  lingkungan  sosial,  ekonomi,  budaya,  lingkungan  fisik  dan aspek psikologis

Seorang pemimpin pendidikan harus mampu  menjadi  pemecah  masalah  bagi  dirinya  dan  orang  lain.  Ini  merupakan konsekuensi logis sebagai seorang pemimpin, karena mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus berani mengambil keputusan. Karena posisinya sebagai problem solver, ia harus benar-benar memiliki daya analisis yang tinggi, sehingga keputusan yang diambilnya sudah dipertimbangkan secara matang, yang dapat  dilakukan  melalui  studi  kasus,  pengamatan,  maupun wawancara terfokus.

Pemimpin pendidikan sebagai problem  solver dituntut untuk memiliki kreativitas   dalam   memecahkan   masalah   dan   mengembangkan   alternatif penyelesaiannya. Berpikir kreatif  untiuk memecahkan masalah dapat dilakukan  melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

§ Tahap  orientasi  masalah,  yaitu  merumuskan  masalah  dan mengindentifikasi  aspek  aspek  masalah  tersebut.  dalam  prospeknya, si pemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalahyang dipikirkan.

§ Tahap preparasi. Pikiran  harus  mendapat  sebanyak  mungkin informasi yang  relevan  dengan  masalah tersebut. Kemudian informasi  itu diproses untuk menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi.

§ Tahap inkubasi.  Ketika  pemecahan  masalah  mengalami kebuntuan maka biarkan pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan masalah.

§ Tahap iluminasi. Proses inkubasi berakhir, karena si pemikir  mulai  mendapatkan  ilham  serta  serangkaian  pengertian (insight)  yang  dianggap dapat memecahkan masalah.

§ Tahap verifikasi, yaitu melakukan pengujian atas pemecahan  masalah tersebut, apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus di ulangi lagi.

Dalam  hal  mengambil keputusan,  antar  individu  yang  satu  dengan  individu  yang  lain  melakukan pendekatan dengan cara yang tidak sama. Setiap orang mempunyai cara unik dalam mengambil keputusan.  Jadi ada gaya yang berbeda-beda antar  individu  yang  satu  dengan  yang  lain  dalam  melakukan  pengambilan keputusan. Harren  (1980) menyebutkan gaya  pengambilan  keputusan  adalah  cara-cara  unik  yang  dilakukan  seseorang  di  dalam  membuat  keputusan-keputusan  penting  dalam  hidupnya.

Gaya pengambilan keputusan bersifat melekat pada kondisi seseorang. Gaya pengambilan  keputusan  dipelajari  dan  dibiasakan  oleh  individu  dalam kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta menjadi pola respon  saat  individu  menghadapi  situasi  pengambilan  keputusan.  Gaya  pengambilan  keputusan juga menjadi ciri atau bagian unik dari individu (Phillips, dkk. 1984).

Harren, dkk. membedakan pengambilan keputusan ke dalam 2 (dua) gaya pengambilan yang berseberangan yaitu gaya rasional dan intuitif. Penggolongan dua gaya ini di dasarkan atas:

§ Tingkat individu menggunakan strategi pengambilan keputusan yang bersifat emosional.

§ Cara individu mengolah dan menanggapi informasi serta melakukan evaluasi dalam situasi pengambilan keputusan.

=====================

Diambil  dan adaptasi dari Materi Pembinaan Profesi Pengawas Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2007)

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/01/25/konsep-pengambilan-keputusan-dalam-manajemen-pendidikan/

 

SOAL BAB 5

April 2nd, 2011

1. Enam hak-hak moral harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan adalah….

a. hak persetujuan bebas

b. hak atas privasi

c. hak kebebasan hati nurani

d. hak untuk bebas berpendapat

e. hak atas proses hak

f. hak atas hidup dan keamanan

2. Empat pendekatan yang akan membantu manajer adalah…..

a. pendekatan bermanfaat

b. pendekatan individualisme

c. pendekatan hak-hak moral

d. pendekatan keadilan

3. Pendekatan bermanfaat adalah…..

konsep tentang etika bahwa perilaku moral menghasilkan kebaikan terbesar bagi jumlah terbesar

4. Pemangku kepentingan dalam organisasi adalah…..

kelompok apapun yang berada di dalam maupun di luar organisasi yang meiliki andil dalam kinerja organisasi

5. Pemangku kepentingan utama perusahaan Monsanto terdiri dari…..

a. pihak berwenang yang mengatur

b. pemegang saham

c. pegawai

d. pemasok

e. pemerintah

f. kelompok kepentingan khusus

g. rekanan

h. agen kesehatan

i. institut penelitian

j. kreditor

k. LSM

l. Komunitas

m. pelanggan dan pengguna

6. Kriteria kinerja sosial perusahaan adalah….

a. tanggung jawab diskresionari

b. tanggung jawab etis

c. tanggung jawab hukum

d. tanggung jawab ekonoi

7. Kode etik adalah…..

pernyataan resmi dari nilai - nilai yang dianut oleh perusahaan yang berkaitan dengan persoalan etika dan sosial.

8. Tiga tingkatan pengembangan moral pribadi adalah….

a. tingkat 1 prekonvensional

b. tingkat 2 konvensional

c. tingkat 3 poskonvensional

9. Contoh - contoh tindakan ilegal yang dilakukan perusahaan adalah…..

a. penipuan

b. secara sengaja menjual barang yang cacat

c. melakukan perbaikan / prosedur yang tidak perlu

d. menagihh pada klien atas pekerjaan yang belum tuntas

10. Perusahaan yang beretika dan bertanggung jawab secara sosial dapat menunjukkan ….

kinerja yang sama baiknya, bahkan seringkali lebih baik, dari perusahaan - perusahaan yang tidak bertanggung jawab secara sosial.